Cari Berita InSorot Media

Trending Topik

8/trending/recent

Iklan homepage atas

Drama Ceo Kaya Dan Gadis Miskin Dianggap Halu, China Tidak Beri Izin dan Larang Tayang!

Author
@InSorot


InSorot. Dunia hiburan digital di Tiongkok tengah mengalami perubahan besar yang mengejutkan para penggemarnya. Drama pendek atau micro-dramas yang selama ini mendominasi layar ponsel warganet dengan cerita romansa klise antara CEO dingin kaya raya dan gadis sederhana kini perlahan menghilang dari peredaran.

Perubahan ini terjadi setelah Pemerintah Tiongkok, melalui otoritas penyiaran nasional National Radio and Television Administration (NRTA), secara resmi memperketat regulasi terhadap industri drama pendek. Kebijakan ini mulai diberlakukan menyusul kekhawatiran pemerintah terhadap dampak sosial dari konten yang dinilai terlalu seragam, fantastis, dan jauh dari realitas kehidupan masyarakat.

NRTA menilai bahwa alur cerita yang berulang seperti menikah dengan konglomerat lalu seluruh masalah hidup seketika terselesaikan dapat membentuk ekspektasi yang tidak sehat, terutama terkait pernikahan, status sosial, dan kesuksesan instan. Kehidupan nyata, menurut otoritas, tidak sesederhana narasi dramatis yang ditampilkan dalam episode berdurasi satu hingga dua menit tersebut.

Selain itu, banyak drama pendek dinilai terlalu menonjolkan pemujaan terhadap kekayaan. Gaya hidup mewah yang dipertontonkan secara berlebihan dianggap bertentangan dengan nilai kesederhanaan dan keseimbangan sosial yang ingin ditegakkan pemerintah. Tak hanya itu, kejar tayang demi viralitas membuat kualitas produksi dan pesan moral dalam konten-konten tersebut dinilai semakin menurun.

Langkah pengetatan ini diambil di tengah pesatnya pertumbuhan industri drama pendek di Tiongkok, yang nilai pasarnya telah mencapai miliaran Yuan. Namun, ledakan kuantitas tidak diiringi dengan peningkatan kualitas, sehingga pemerintah memandang perlu adanya intervensi regulatif.

Ke depan, setiap drama pendek yang ingin tayang wajib melewati proses sensor yang lebih ketat. Konten dengan alur cerita yang dianggap terlalu “halu”, tidak realistis, atau sarat materialisme vulgar berpotensi besar tidak mendapatkan izin edar. Sebagai gantinya, pemerintah mendorong kreator untuk mengangkat tema yang lebih membumi, seperti perjuangan anak muda di dunia kerja nyata, kehangatan keluarga, hingga pelestarian budaya lokal.

Reaksi publik pun beragam. Sebagian netizen mengaku kecewa karena kehilangan hiburan ringan yang selama ini menjadi pelarian setelah lelah bekerja. Namun, tak sedikit pula yang mendukung kebijakan ini demi terciptanya tontonan yang lebih sehat dan bermakna.

Kini, industri kreatif Tiongkok berada di persimpangan jalan. Tantangan besarnya adalah satu pertanyaan krusial: mampukah para kreator menghadirkan drama yang tetap menyentuh emosi tanpa mengandalkan CEO ber jet pribadi dan kisah cinta penuh fantasi?



Posting Komentar

0 Komentar
Komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE

Iklan Homepage Tengah