
RIYADH — Selama bertahun-tahun, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) dikenal sebagai poros kekuatan geopolitik paling solid di kawasan Teluk. Keduanya berjalan beriringan, memperluas pengaruh dari Timur Tengah hingga Afrika. Namun, keselarasan itu kini memudar. Rivalitas yang lama terpendam akhirnya muncul ke permukaan, menempatkan dua “sekutu lama” ini di jalur yang saling berseberangan, dari Yaman hingga Sudan, dari Tanduk Afrika hingga sektor ekonomi strategis.
Mengutip laporan AFP, Jumat (2/1/2026), hubungan erat antara Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dan Presiden UEA Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan selama ini dianggap sebagai fondasi utama aliansi kedua negara. Bahkan, Sheikh Mohamed kerap dipandang sebagai figur mentor bagi Mohammed bin Salman di awal perjalanan politiknya.
Namun, seiring berjalannya waktu, arah ambisi kedua pemimpin itu mulai berbeda. Mohammed bin Salman fokus mempercepat transformasi ekonomi domestik Arab Saudi sembari menegaskan kembali peran Riyadh sebagai pemimpin utama kawasan. Di sisi lain, UEA justru memperluas pengaruhnya melalui jejaring aliansi regional dan dukungan terhadap aktor non-negara dalam berbagai konflik.
Akibatnya, perbedaan kepentingan kian nyata. Riyadh dan Abu Dhabi kini berada di posisi berlawanan dalam isu produksi minyak, konflik di Sudan, persaingan pengaruh di Tanduk Afrika, serta dinamika perang Yaman—meski secara formal masih berada dalam satu koalisi militer melawan kelompok Houthi.
Yaman Jadi Titik Pecah Hubungan
Yaman menjadi panggung utama retaknya hubungan kedua negara. Ketegangan meningkat ketika Dewan Transisi Selatan (Southern Transitional Council/STC) yang didukung UEA—dan merupakan bagian dari aliansi pemerintahan Yaman—menguasai wilayah strategis kaya sumber daya di Provinsi Hadramawt dan Mahra.
Wilayah tersebut sebelumnya berada di bawah kendali pasukan yang setia kepada pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi. Bahkan, koalisi militer pimpinan Riyadh dilaporkan sempat menggempur pengiriman senjata yang diduga berasal dari UEA dan ditujukan kepada kelompok separatis tersebut.
Retakan sejatinya sudah terlihat sejak Juli 2019, ketika UEA menarik sebagian besar pasukannya dari Yaman. Pakar Yaman dan Teluk, Baraa Shiban, menilai tujuan Arab Saudi dan UEA di negara itu “sangat berbeda” dan nyaris mustahil dipertemukan.
Menurut Shiban, Arab Saudi khawatir UEA bersedia “memecah negara” dengan mendukung kekuatan disruptif demi memperluas pengaruhnya. Sebaliknya, Riyadh lebih memilih menjaga struktur kekuasaan yang ada demi stabilitas jangka panjang.
Perbedaan Ideologi dan Perebutan Pengaruh Regional
Selain konflik kepentingan, perbedaan ideologi turut memperlebar jarak. Shiban menyoroti apa yang ia sebut sebagai “obsesi” kepemimpinan UEA dalam memerangi Ikhwanul Muslimin dan berbagai bentuk Islam politik—sikap yang secara aktif disebarkan Abu Dhabi ke seluruh kawasan. Pendekatan keras ini, menurutnya, tidak sepenuhnya sejalan dengan kebijakan Arab Saudi.
Di sisi lain, Arab Saudi berupaya mempertahankan posisinya sebagai kekuatan regional utama. “Melihat UEA membangun kesepakatan bilateral dan memperoleh pijakan di banyak negara melalui aktor non-negara menjadi hal yang sangat mengkhawatirkan bagi Riyadh,” ujar Shiban.
Berseberangan di Sudan dan Tanduk Afrika
Rivalitas juga mencuat di Sudan. Pada November lalu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan komitmennya untuk mengakhiri perang di Sudan, menyusul permintaan Mohammed bin Salman saat kunjungannya ke Washington. Dalam konflik ini, UEA secara luas dituduh memasok senjata kepada Pasukan Dukungan Cepat (Rapid Support Forces/RSF) yang sejak April 2023 bertempur melawan tentara reguler Sudan—tuduhan yang berulang kali dibantah Abu Dhabi. Sebaliknya, Arab Saudi justru diketahui memberikan dukungan kepada militer Sudan.
Peneliti Timur Tengah dan Afrika Utara, Emadeddin Badi, menilai langkah STC di Yaman sulit dipisahkan dari dinamika Sudan. Ia menyebutnya sebagai bentuk “pembalasan UEA” atas kunjungan Mohammed bin Salman ke Trump, yang dipersepsikan sebagai sinyal sikap Arab Saudi yang semakin keras terhadap Abu Dhabi.
Persaingan juga meluas ke Tanduk Afrika, kawasan strategis yang menghubungkan Laut Merah, Teluk Aden, dan Samudra Hindia. UEA membangun hubungan erat dengan Ethiopia dan Somaliland—wilayah yang ingin memisahkan diri dari Somalia—serta mengoperasikan pangkalan militer di pelabuhan Berbera sejak 2017.
Sebaliknya, Arab Saudi berupaya memperkuat pemerintahan Somalia di Mogadishu. Ketegangan semakin meningkat ketika Israel, yang menjalin hubungan diplomatik dengan UEA sejak 2020, pekan lalu mengakui Somaliland. Langkah itu dikecam Arab Saudi bersama sekitar 20 negara mayoritas Muslim lainnya, sementara UEA memilih tidak ikut mengecam.
