Maros, Sulawesi Selatan. Polres Maros tengah melakukan penyelidikan mendalam terkait kasus penganiayaan yang dialami seorang pria berinisial A (25). Korban mengaku menjadi sasaran kekerasan oleh sejumlah oknum yang diduga polisi saat merayakan malam pergantian tahun di kawasan Pantai Tak Berombak (PTB), Maros.
Dikutip dari Detik Sulsel, peristiwa tersebut terjadi pada Rabu malam (31/12/2025) sekitar pukul 23.46 Wita, ketika A tengah menunggu detik-detik tahun baru bersama kerabatnya. Saat itu, korban disebut sempat membakar petasan berukuran kecil, sebelum akhirnya mengalami pengeroyokan hingga tubuhnya babak belur.
![]() |
| Foto: Kapolres Maros AKBP Douglas Mahendrajaya. (Dok. Istimewa) |
Kapolres Maros, AKBP Douglas Mahendrajaya, menegaskan bahwa pihaknya tidak tinggal diam dan akan menindak tegas apabila terbukti ada anggota kepolisian yang terlibat dalam kejadian tersebut.
“Kami masih menyelidiki siapa pelakunya. Jika memang ada anggota kami yang terlibat, tentu akan diproses sesuai aturan. Namun sejauh ini, pelakunya masih dalam pendalaman,” ujar Douglas, Jumat (2/1/2026).
Untuk mengusut kasus ini, dua satuan khusus telah diterjunkan, yakni Propam dan Satreskrim Polres Maros. Penyelidikan juga difokuskan pada kemungkinan adanya pihak yang hanya mengaku sebagai anggota polisi saat kejadian berlangsung.
“Propam dan Reskrim yang turun menangani. Termasuk kami dalami apakah benar pelaku merupakan anggota polisi atau hanya mengaku,” tambahnya.
Polisi memastikan proses hukum berjalan dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian dan transparansi. Sejumlah saksi telah dimintai keterangan, termasuk korban yang sudah membuat laporan resmi ke Polres Maros.
“Korban sudah melapor, keterangannya sudah diambil, dan beberapa saksi di lokasi juga telah kami periksa,” jelas Douglas.
Sebelumnya, insiden ini mencuat setelah keluarga korban mengungkapkan bahwa A diduga dikeroyok secara beramai-ramai, sebagian pelaku disebut mengenakan seragam, sementara lainnya berpakaian bebas.
“Omku dikeroyok, dipukuli. Ada yang pakai sepatu, ada yang berseragam, ada juga yang tidak,” ungkap Rahmat (21), ponakan korban.
Rahmat menuturkan, awal mula kejadian bermula saat korban menyalakan petasan kecil di area PTB. Tak lama kemudian, seorang pria yang disebut sebagai polisi muda melintas bersama seorang perempuan dan mempertanyakan siapa yang menyalakan petasan tersebut.
“Dia bakar petasan kecil. Terus ada polisi muda lewat sama pacarnya, teriak siapa yang kasi meletus petasan. Omku jawab, saya,” tutur Rahmat.
Tak lama setelah itu, situasi disebut memanas hingga berujung pada dugaan penganiayaan terhadap A. Saat ini, polisi masih mengumpulkan fakta dan bukti guna memastikan kronologis serta pihak-pihak yang terlibat dalam peristiwa tersebut.

