
InSorot - Aksi tak biasa dilakukan Presiden Prancis Emmanuel Macron saat menghadiri KTT Africa Forward di Nairobi, Kenya. Di tengah jalannya forum internasional yang dihadiri puluhan pemimpin Afrika, Macron tiba-tiba naik ke atas panggung dan menghentikan suasana ruangan yang dinilainya terlalu gaduh.
Peristiwa itu terjadi pada Senin dalam gelaran KTT Africa Forward di Nairobi, Kenya, yang mempertemukan lebih dari 30 kepala negara Afrika, pengusaha muda, hingga para eksekutif bisnis internasional. Kehadiran Macron sendiri menjadi bagian dari upaya Prancis memperkuat hubungan dan kerja sama baru dengan negara-negara Afrika.
Namun perhatian publik justru tertuju pada momen ketika Macron menyela jalannya presentasi. Dalam video yang ramai beredar di media sosial, Presiden Prancis tersebut meminta mikrofon lalu menegur sejumlah peserta yang dianggap berbicara sendiri saat pembicara sedang menyampaikan pidato.
Dengan nada tegas, Macron meminta seluruh hadirin menunjukkan rasa hormat kepada pembicara di atas panggung. Ia menilai suasana gaduh dalam forum resmi internasional merupakan tindakan yang tidak pantas dan mengganggu jalannya diskusi.
“Permisi semuanya, hei, hei, hei. Maaf, tetapi tidak mungkin membahas budaya dengan suasana berisik seperti ini,” ujar Macron dalam bahasa Inggris di hadapan peserta forum.
Ia juga menyarankan peserta yang ingin melakukan pembicaraan pribadi atau pertemuan bilateral agar meninggalkan ruangan utama dan menggunakan tempat khusus yang telah disediakan.
Aksi spontan Macron tersebut langsung memicu beragam reaksi di media sosial. Sebagian pihak menilai sikap Macron menunjukkan ketegasan dan penghormatan terhadap forum internasional, sementara lainnya menganggap tindakannya terlalu keras di depan publik.
KTT Africa Forward sendiri menjadi forum penting bagi Prancis untuk memperkuat pengaruh dan kemitraan baru di Afrika, terutama di tengah mulai meredupnya hubungan Paris dengan sejumlah negara bekas koloninya di Afrika Barat. Menariknya, forum ini juga menjadi KTT Africa Forward pertama yang digelar Prancis di negara berbahasa Inggris, yakni Kenya.